WhatsApp Commerce Lagi Naik. Setelah Customer Bilang “Deal”, Seller Ngapain?
Jualan lewat WhatsApp semakin berkembang dari sekadar balas chat menjadi bagian dari proses commerce. Customer bisa bertanya, melihat produk, meminta rekomendasi, sampai memutuskan membeli lewat percakapan. Tetapi tantangan seller sebenarnya baru dimulai setelah customer berkata: “Oke, saya jadi order.”
Apa itu WhatsApp Commerce? WhatsApp Commerce adalah penggunaan WhatsApp sebagai salah satu kanal dalam proses jual-beli, mulai dari percakapan dengan calon customer, informasi dan rekomendasi produk, konfirmasi pesanan, hingga layanan setelah pembelian. Namun bagi seller produk fisik, proses tidak selesai ketika customer berkata “deal”. Data order masih perlu dirapikan, metode pembayaran dikonfirmasi, ongkir dihitung, kurir dipilih, paket diproses, resi dibuat, pengiriman dipantau, dan customer di-follow up.
Ada perubahan kecil dalam kebiasaan belanja online yang sebenarnya membawa perubahan besar untuk seller.
Customer tidak selalu ingin membuka marketplace, mencari nama toko, memilih produk, memasukkan alamat, lalu melewati beberapa halaman sebelum bertanya sesuatu.
Kadang proses belanja dimulai sesederhana ini:
lihat konten → tertarik → klik WhatsApp → tanya produk → ngobrol → deal.
Percakapan berubah menjadi bagian dari funnel penjualan.
Inilah salah satu alasan istilah WhatsApp Commerce dan conversational commerce semakin relevan untuk seller online.
Jualan Langsung Lewat Chat Semakin Mendapat Perhatian
Pada 22 September 2026, Katadata mengangkat tren WhatsApp Commerce dan peluang bisnis untuk melakukan proses penjualan melalui percakapan digital.
Momentum ini berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem bisnis WhatsApp oleh Meta. WhatsApp sebelumnya sudah menghadirkan katalog dan cart untuk membantu customer melihat produk serta mengirim pilihan barang kepada bisnis melalui chat.
Pada 2026, Meta juga memperluas penggunaan Meta Business Agent, AI yang dapat membantu bisnis menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi produk, mengelola leads, dan mendukung proses penjualan.
Apa Itu WhatsApp Commerce?
Secara sederhana, WhatsApp Commerce adalah aktivitas perdagangan yang menggunakan WhatsApp sebagai bagian dari perjalanan customer menuju transaksi.
Bentuknya tidak harus sama untuk setiap bisnis.
Bagi sebuah brand, WhatsApp mungkin digunakan untuk membantu customer memilih produk.
Bagi seller kecil, WhatsApp bisa menjadi tempat customer bertanya stok, warna, ukuran, harga, ongkir, sampai mengatakan bahwa mereka ingin membeli.
Bagi bisnis yang lebih besar, WhatsApp dapat terhubung dengan customer service, automation, katalog, CRM, dan sistem operasional lainnya.
Jadi WhatsApp Commerce bukan sekadar “jualan dengan mengirim broadcast”. Intinya adalah menjadikan percakapan sebagai bagian dari perjalanan customer dari tertarik hingga membeli.
Apakah Semua Transaksi Harus Selesai di WhatsApp?
Tidak.
Ini penting supaya seller tidak salah memahami istilah WhatsApp Commerce.
Kapabilitas commerce dan pembayaran WhatsApp dapat berbeda berdasarkan negara, produk Meta yang digunakan, serta setup masing-masing bisnis.
Untuk seller di Indonesia, WhatsApp bisa tetap menjadi pusat percakapan, sementara bagian lain dari transaksi menggunakan sistem yang paling sesuai.
Contohnya:
- Customer melihat produk dari Instagram, TikTok, ads, atau website.
- Customer masuk ke WhatsApp untuk bertanya.
- Seller membantu memilih produk dan mengonfirmasi stok.
- Customer diarahkan ke checkout form agar data order lebih terstruktur.
- Seller mengonfirmasi pembayaran atau menggunakan pengiriman COD bila sesuai.
- Order kemudian diproses untuk pengiriman.
Customer boleh memulai dari chat. Tetapi data order sebaiknya tidak berhenti sebagai chat. Ketika volume penjualan bertambah, informasi penting perlu masuk ke alur operasional yang lebih terstruktur.
Setelah Customer Bilang “Deal”, Apa yang Harus Dilakukan Seller?
Bayangkan customer mengirim pesan:
“Oke kak, yang hitam size L satu. Saya jadi ambil.”
Secara penjualan, kabar ini menyenangkan.
Secara operasional, masih ada pekerjaan.
Seller perlu mengubah percakapan menjadi data order.
Masalah Jualan Lewat WhatsApp Biasanya Bukan di Chat-nya
Ketika order masih satu atau dua, seller mungkin masih bisa mengandalkan ingatan dan scroll percakapan.
Masalah mulai muncul ketika chat bertambah.
| Situasi | Kalau Masih Manual | Yang Sebaiknya Dilakukan |
|---|---|---|
| Alamat customer | Dicari ulang dari chat panjang. | Masukkan ke format order atau checkout yang terstruktur. |
| Varian produk | Mengandalkan screenshot atau copy-paste. | Simpan SKU, varian, jumlah, dan catatan order dengan jelas. |
| Ongkir | Cek satu per satu secara manual. | Bandingkan layanan dan estimasi ongkir sebelum pengiriman dibuat. |
| Pembayaran | Status transfer dan COD tercampur. | Bedakan order COD dan Non-COD sejak awal. |
| Pengiriman | Seller membawa paket sendiri ke berbagai drop point. | Gunakan proses pickup jika tersedia dan sesuai kebutuhan. |
| Tracking | Resi dikirim manual satu per satu. | Gunakan sistem pengiriman dengan data resi dan tracking yang rapi. |
| Repeat order | Setelah paket terkirim, customer terlupakan. | Simpan data customer secara tepat dan lakukan follow-up sesuai konteks serta izin komunikasi yang berlaku. |
Seperti Apa Alur WhatsApp Commerce yang Lebih Rapi?
Seller tidak perlu langsung membangun sistem yang kompleks.
Mulai dari alur sederhana yang bisa diulang.
1. Traffic Masuk ke WhatsApp
Customer bisa datang dari Instagram, TikTok, website, iklan, link bio, QR code, ataupun database customer lama.
Pada tahap ini, tugas WhatsApp adalah mengurangi jarak antara rasa penasaran customer dengan percakapan.
2. Gunakan Chat untuk Membantu Customer Memutuskan
Customer bisa bertanya mengenai:
- produk yang paling sesuai,
- stok dan varian,
- ukuran,
- harga dan promo,
- estimasi ongkir,
- metode pembayaran,
- serta informasi produk lainnya.
3. Setelah Deal, Pindahkan Data ke Format Order
Ini adalah transisi paling penting.
Jangan meminta admin mengingat semua hal yang sudah dibicarakan dalam chat.
Minimal pastikan order mempunyai:
- nama customer,
- nomor kontak,
- alamat lengkap,
- produk dan varian,
- jumlah barang,
- nilai transaksi,
- metode pembayaran,
- dan kebutuhan pengiriman.
Seller yang membangun sales channel mandiri juga bisa menggunakan checkout form agar customer memasukkan data order dengan lebih terstruktur.
4. Tentukan COD atau Non-COD
Tidak semua customer memiliki preferensi pembayaran yang sama.
Sebagian customer nyaman melakukan pembayaran terlebih dahulu.
Sebagian lainnya mungkin memilih Cash on Delivery atau COD bila layanan tersebut tersedia untuk area, ekspedisi, dan jenis pengirimannya.
Karena itu metode pembayaran dan metode pengiriman sebaiknya sudah jelas sebelum resi dibuat.
5. Bandingkan Ongkir dan Pilih Kurir
Ketika order datang langsung dari WhatsApp, seller tidak memiliki satu kurir default yang otomatis ditentukan marketplace.
Justru di sinilah seller mempunyai fleksibilitas.
Seller dapat cek ongkir , membandingkan layanan yang tersedia, lalu memilih opsi yang sesuai dengan kebutuhan order.
6. Buat Resi dan Proses Pickup
Setelah data order lengkap, proses fulfillment harus bergerak cepat.
Untuk seller dengan order rutin, membawa paket satu per satu ke drop point dapat menyita waktu operasional.
Penggunaan platform kirim paket online membantu seller mengelola proses pengiriman dengan alur yang lebih terstruktur.
7. Kirim Tracking dan Bangun Repeat Order
Customer tidak berhenti membutuhkan informasi setelah melakukan pembayaran.
Setelah checkout, pertanyaan berubah menjadi:
“Paket saya sudah dikirim belum?”
Lalu:
“Sekarang paketnya ada di mana?”
Karena itu tracking merupakan bagian dari pengalaman WhatsApp Commerce, bukan sekadar pekerjaan bagian logistik.
Apakah WhatsApp Commerce Berarti Seller Harus Meninggalkan Marketplace?
Tidak.
Marketplace dan sales channel mandiri mempunyai fungsi yang berbeda.
Marketplace masih kuat untuk:
- mendapatkan traffic,
- discovery,
- membangun rating dan review,
- menjangkau customer baru,
- dan memberikan rasa familiar pada pembeli.
Sementara channel seperti WhatsApp dapat membantu seller membangun hubungan yang lebih langsung dengan customer, terutama untuk customer yang sudah mengenal brand, repeat buyer, komunitas, atau leads yang datang dari content dan campaign sendiri.
Strateginya bukan marketplace versus WhatsApp. Strateginya adalah membangun lebih dari satu pintu penjualan supaya bisnis tidak bergantung pada satu channel saja.
WhatsApp Commerce dan Sales Channel Mandiri
Di Lincah, pendekatan ini sejalan dengan konsep Direct Seller Movement .
Seller tidak harus meninggalkan marketplace.
Tetapi seller dapat mulai membangun jalur alternatif untuk menerima sebagian order secara langsung.
Untuk seller yang baru membangun channel direct, target awal bisa sesederhana membuktikan bahwa 1–5 order pertama dapat masuk melalui customer lama, WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, atau channel sendiri. Setelah alurnya bekerja, seller dapat mengulang dan meningkatkan skalanya secara bertahap.
Bagaimana AI Mengubah Jualan Lewat WhatsApp?
WhatsApp Commerce juga semakin menarik karena percakapan bisnis mulai bertemu dengan AI.
Pada Juni 2026, Meta memperkenalkan Meta Business Agent untuk membantu bisnis melayani customer.
Menurut Meta, Business Agent dapat membantu:
- menjawab pertanyaan mengenai bisnis,
- memberikan rekomendasi produk berdasarkan katalog,
- membantu mengkualifikasi leads,
- mendukung appointment atau kebutuhan tertentu,
- melakukan handoff ke tim manusia,
- dan mendukung proses closing.
Artinya bottleneck di bagian percakapan perlahan bisa berkurang.
Tetapi kalau AI membuat seller mampu menangani lebih banyak calon customer, bagian setelah closing juga harus siap menangani lebih banyak order.
Agar WhatsApp Commerce Bisa Scale, Seller Butuh 4 Sistem Sederhana
Sistem Percakapan
Template jawaban, product knowledge, FAQ, SLA respons, dan aturan kapan admin perlu mengambil alih percakapan.
Sistem Order
Data customer, alamat, SKU, jumlah, nilai transaksi, pembayaran, serta catatan pesanan harus masuk ke format yang terstruktur.
Sistem Pengiriman
Seller membutuhkan proses cek ongkir, pemilihan kurir, COD/Non-COD, pickup, resi, dan tracking.
Sistem Follow-up
Setelah transaksi selesai, seller dapat mengelola relationship dengan customer untuk layanan purna jual dan repeat order sesuai izin komunikasi yang dimiliki.
Di Mana Peran Lincah dalam WhatsApp Commerce?
Lincah bukan aplikasi chat.
Lincah juga bukan pengganti WhatsApp.
Keduanya bekerja pada bagian funnel yang berbeda.
WhatsApp membantu seller berada di sisi conversation, customer interaction, product inquiry, dan closing.
Setelah customer mengatakan “jadi order”, seller produk fisik masuk ke bagian berikutnya: fulfillment dan pengiriman.
Melalui Lincah, seller dapat:
- cek ongkir online,
- membandingkan pilihan layanan pengiriman,
- memilih kurir sesuai kebutuhan,
- mengelola pengiriman COD maupun Non-COD sesuai layanan yang tersedia,
- request pickup,
- membuat dan mengelola resi,
- mengelola order pengiriman,
- serta memantau tracking paket.
WhatsApp dapat membantu customer mengatakan “saya mau beli”. Lincah membantu seller mengelola bagian setelah order siap dikirim.
Jangan Biarkan Order Berhenti Sebagai Chat.
Setelah order dari WhatsApp masuk, lanjutkan proses pengirimannya dengan alur yang lebih rapi. Cek ongkir, pilih kurir, gunakan COD atau Non-COD, request pickup, kelola resi, dan pantau tracking melalui Lincah.
Jadi, Apakah WhatsApp Bisa Menjadi Channel Jualan?
Bisa.
Bahkan nilai terbesarnya bukan hanya karena WhatsApp memudahkan customer mengirim pesan.
Nilainya muncul ketika seller dapat mengubah percakapan menjadi proses bisnis yang bisa diulang.
Customer menemukan produk.
Customer bertanya.
Seller membantu.
Customer deal.
Data order masuk.
Pembayaran dikonfirmasi.
Paket dikirim.
Tracking diberikan.
Hubungan dengan customer berlanjut.
Pertanyaan Seputar WhatsApp Commerce
Apa itu WhatsApp Commerce?
WhatsApp Commerce adalah penggunaan WhatsApp sebagai salah satu kanal dalam perjalanan jual-beli, mulai dari percakapan dengan calon customer, informasi dan rekomendasi produk, konfirmasi order, hingga layanan setelah pembelian.
Apakah bisa jualan langsung lewat WhatsApp?
Bisa. Seller dapat menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan customer, membagikan informasi produk, menjawab pertanyaan, membantu customer memilih produk, dan menerima konfirmasi pembelian. Sistem checkout, pembayaran, dan fulfillment yang digunakan dapat berbeda sesuai setup bisnis.
Apakah WhatsApp Commerce sama dengan marketplace?
Tidak. Marketplace menyediakan ekosistem transaksi dan discovery di dalam sebuah platform, sedangkan WhatsApp berfungsi terutama sebagai kanal percakapan antara bisnis dan customer. Seller dapat menggunakan keduanya secara bersamaan.
Apakah seller harus meninggalkan marketplace untuk jualan lewat WhatsApp?
Tidak. Marketplace tetap dapat digunakan untuk mendapatkan traffic, customer baru, rating, dan discovery. WhatsApp dapat menjadi channel tambahan untuk leads dari content, customer lama, repeat buyer, atau campaign direct selling.
Bagaimana cara menerima order WhatsApp agar tidak berantakan?
Setelah customer setuju membeli, pindahkan informasi penting seperti nama, nomor telepon, alamat, produk, varian, jumlah, nilai transaksi, pembayaran, dan metode pengiriman ke format order yang terstruktur. Checkout form dapat digunakan agar data tidak hanya tersimpan di percakapan.
Apakah order dari WhatsApp bisa dikirim COD?
Bisa jika seller menggunakan layanan pengiriman yang mendukung COD dan wilayah serta kirimannya memenuhi ketentuan ekspedisi. Lincah mendukung pengiriman COD dan Non-COD melalui layanan yang tersedia di platform.
Bagaimana cara mengirim paket dari order WhatsApp?
Setelah data order lengkap, seller dapat menentukan berat dan tujuan paket, cek ongkir, memilih kurir, menentukan COD atau Non-COD, membuat pengiriman, request pickup bila tersedia, mendapatkan resi, lalu memantau tracking paket.
Apa fungsi Lincah untuk seller yang jualan lewat WhatsApp?
Lincah membantu seller mengelola proses pengiriman setelah order masuk. Seller dapat cek ongkir, memilih kurir, menggunakan COD atau Non-COD sesuai layanan, request pickup, mengelola resi, dan melakukan tracking melalui satu platform.
Apakah AI bisa membantu jualan lewat WhatsApp?
Ya. Meta mengembangkan Meta Business Agent yang dapat membantu bisnis menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi produk, mengkualifikasi leads, serta mendukung proses penjualan. Namun bisnis tetap membutuhkan proses order, fulfillment, pengiriman, dan layanan customer setelah transaksi.
Sumber & Referensi
- Katadata — “WhatsApp Commerce Buka Peluang Bisnis Jualan Langsung Lewat Chat”, 22 September 2026.
- Meta Newsroom — “Be There for Every Customer With Meta Business Agent”, 3 Juni 2026.
- Meta Newsroom — “Introducing Catalogs for Small Businesses”, 7 November 2019.
- Meta Newsroom — “Making it Easier to Shop on WhatsApp with Carts”, 8 Desember 2020.
- Meta Newsroom — “New Ways to Find and Buy from Businesses on WhatsApp”, 17 November 2022.
- Lincah.id — Jualan Online / Direct Seller Movement, diakses September 2026.
- Lincah.id — Platform Kirim Paket Online, diakses September 2026.