Seller Strategy • September 2026

Seller Jangan Taruh Semua Penjualan di Satu Keranjang. Kenapa?

Marketplace bisa menjadi mesin penjualan yang sangat kuat. Tapi bisnis yang sehat tidak harus bergantung pada satu tempat untuk mendapatkan seluruh order, membangun repeat customer, dan menjalankan pertumbuhan.

9 September 2026 Seller Strategy Estimasi baca 8 menit
?
Jawaban Singkat

Kenapa seller sebaiknya tidak bergantung pada satu channel penjualan? Karena setiap channel mempunyai aturan, algoritma, biaya, kompetisi, dan karakter customer yang berbeda. Strategi multi-channel membantu seller membagi sumber penjualan, membangun hubungan langsung dengan customer, mengembangkan repeat order, dan mempunyai lebih banyak pilihan untuk menjalankan bisnis tanpa harus meninggalkan marketplace.

Kalau hari ini sebagian besar omzet bisnis Anda datang dari satu marketplace, itu belum tentu sebuah masalah.

Bahkan bisa jadi itu tanda bahwa Anda sudah menemukan channel yang bekerja.

Masalah baru muncul ketika channel tersebut menjadi satu-satunya cara bisnis Anda mendapatkan penjualan.

Tidak punya jalur alternatif.

Tidak mempunyai database yang bisa di-follow up secara langsung sesuai consent customer.

Repeat order selalu harus dimulai dari platform yang sama.

Dan setiap perubahan mekanisme platform otomatis menjadi sesuatu yang sangat besar bagi operasional bisnis.

Isu yang sedang ramai pada September 2026 menjadi salah satu pengingat tentang hal tersebut.

Trending September 2026

Polemik Seller TikTok Shop dan Tokopedia Masuk DPR

Pada 8 September 2026, Komisi VII DPR RI menggelar pembahasan bersama TikTok Shop, Tokopedia, pemerintah, serta pihak terkait menyusul aduan sejumlah pelaku UMKM mengenai akun dan dana penjual.

Pada 9 September, DPR menyebut pembahasan akan dilanjutkan dan terdapat 217 pelaku UMKM yang masuk dalam pembahasan kasus.

Di sisi lain, Tokopedia dan TikTok Shop menjelaskan bahwa penangguhan dana dilakukan secara sementara selama proses pemeriksaan atau investigasi sebagai bagian dari mekanisme perlindungan penjual dan pembeli.

Artikel ini bukan tentang menentukan siapa yang benar atau salah.

Dan pelajarannya juga bukan:

“Seller harus meninggalkan marketplace.”

Justru sebaliknya.

Marketplace tetap bisa menjadi mesin penjualan utama. Yang perlu dihindari adalah menjadikan satu platform sebagai satu-satunya mesin yang membuat bisnis tetap hidup.

Apa Itu Ketergantungan pada Satu Channel Penjualan?

Dalam bisnis, kondisi ini sering disebut channel concentration atau konsentrasi channel.

Sederhananya:

Kalau satu channel berhenti menghasilkan order, seberapa besar bisnis Anda ikut berhenti?

Misalnya seller mempunyai omzet 1.000 order per bulan.

Jika:

  • 950 order datang dari satu marketplace,
  • 30 order berasal dari WhatsApp,
  • 20 order berasal dari customer lama,

berarti sekitar 95% sumber order bisnis tersebut masih terkonsentrasi pada satu channel.

Ini tidak otomatis salah.

Tetapi seller perlu menyadari bahwa bisnisnya memiliki channel dependency yang tinggi.

Kenapa Seller Perlu Mulai Punya Lebih dari Satu Jalur Penjualan?

01

Setiap Channel Punya Aturan Sendiri

Marketplace, social commerce, WhatsApp, website, dan social media mempunyai mekanisme, kebijakan, serta cara distribusi traffic yang berbeda.

02

Traffic Tidak Selalu Bisa Dikontrol

Ranking produk, algoritma rekomendasi, bidding iklan, campaign, dan kompetisi dapat berubah mengikuti kondisi masing-masing platform.

03

Repeat Order Punya Nilai Besar

Customer yang sudah pernah membeli biasanya membutuhkan effort akuisisi yang berbeda dibanding customer baru. Karena itu hubungan dengan repeat buyer perlu dibangun secara lebih serius.

04

Bisnis Butuh Ruang untuk Bereksperimen

Channel sendiri memberi seller ruang untuk menguji bundling, broadcast berbasis izin, campaign, komunitas, landing page, atau offer berbeda.

Ini Bukan Marketplace vs Direct Selling

Kesalahan yang sering terjadi ketika membicarakan sales channel mandiri adalah membuat seolah-olah seller harus memilih:

marketplace atau direct selling.

Padahal keduanya mempunyai fungsi berbeda.

AspekMarketplaceSales Channel Mandiri
Traffic Marketplace sudah mempunyai audience dan demand. Seller membangun traffic sendiri dari social media, iklan, database, komunitas, atau content.
Customer Acquisition Sangat kuat untuk menemukan customer baru. Cocok untuk membangun relationship, campaign, dan repeat customer.
Aturan Transaksi Mengikuti mekanisme dan kebijakan marketplace. Seller mempunyai fleksibilitas lebih besar dalam menyusun offer dan customer journey.
Database Penggunaan data customer mengikuti kebijakan platform. Seller dapat membangun first-party relationship berdasarkan consent dan kebijakan privasi yang sesuai.
Repeat Order Customer dapat kembali membeli melalui marketplace. Seller dapat membangun mekanisme follow-up, membership, community, atau campaign sendiri.
Pengiriman Mengikuti opsi logistik marketplace. Seller dapat menggunakan solusi pengiriman seperti Lincah sesuai kebutuhan order.

Strategi yang lebih sehat bukan mengganti marketplace. Strateginya adalah membuat marketplace dan channel sendiri mempunyai peran masing-masing.

Seller Harus Mulai dari Mana? Coba Framework 70–20–10

Seller tidak harus langsung memindahkan setengah bisnisnya ke channel sendiri.

Justru perubahan yang terlalu agresif dapat mengganggu channel yang sudah terbukti menghasilkan penjualan.

Dalam Lincah Direct Seller Movement, seller bisa menggunakan pendekatan sederhana:

70% Marketplace
Pertahankan mesin penjualan utama. Jaga rating, traffic, stok, campaign, dan performa toko.
20% Sales Channel Mandiri
Mulai bangun repeat order melalui WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, checkout form, atau channel sendiri.
10% Eksperimen
Uji offer, broadcast, landing page, komunitas, live, atau campaign baru.

Persentase tersebut bukan aturan wajib.

Fungsinya adalah membantu seller mengubah mindset dari:

“Saya harus pindah dari marketplace.”

menjadi:

“Saya tetap jualan di marketplace sambil mulai membangun satu jalur penjualan yang saya kelola sendiri.”

Seperti Apa Alur Sales Channel Mandiri yang Sederhana?

Banyak seller membayangkan direct selling berarti harus langsung mempunyai website ecommerce besar.

Padahal untuk menguji beberapa order pertama, alurnya bisa jauh lebih sederhana.

01 Social Media / Customer Lama
02 WhatsApp / Instagram / TikTok Bio
03 Checkout Form
04 Order Diproses
05 Kirim via Lincah

Target pertamanya juga tidak perlu 100 order.

Bahkan 1–5 order direct pertama sudah cukup untuk menjawab pertanyaan paling penting:

  • Apakah customer bersedia membeli lewat channel ini?
  • Apakah proses ordernya cukup mudah?
  • Apakah seller dapat mengelola data order dengan rapi?
  • Apakah metode pembayaran sesuai dengan kebutuhan customer?
  • Apakah proses pengirimannya bisa berjalan dalam satu workflow?

Yang Sedang Dibangun Sebenarnya Bukan Sekadar Channel Baru

Nilai terbesar direct selling bukan sekadar mempunyai tempat tambahan untuk menerima order.

Yang sedang dibangun adalah:

  • hubungan langsung dengan customer,
  • first-party audience yang diperoleh secara sah dan berdasarkan consent,
  • kemampuan melakukan follow-up,
  • peluang repeat order,
  • kemampuan menguji offer sendiri,
  • dan jalur penjualan alternatif.
Penting: Direct selling bukan berarti mengambil data customer marketplace secara sembarangan.

Seller tetap harus mengikuti kebijakan platform, ketentuan perlindungan data pribadi, serta menggunakan customer data berdasarkan izin dan tujuan penggunaan yang sesuai. Bangun channel sendiri melalui audience, leads, customer, atau komunitas yang memang memberikan consent untuk berinteraksi dengan brand.

Kalau Order Datang dari Banyak Channel, Pengirimannya Bagaimana?

Di sinilah tantangan berikutnya muncul.

Seller bisa mendapatkan order dari:

  • Marketplace
  • WhatsApp
  • Instagram
  • TikTok
  • Landing page
  • Checkout form
  • Customer lama
  • Reseller atau affiliate

Tetapi order dari channel sendiri tetap membutuhkan proses fulfillment.

Seller perlu:

  • menentukan ongkir,
  • memilih ekspedisi,
  • menentukan COD atau Non-COD,
  • membuat pengiriman,
  • request pickup,
  • mencetak resi,
  • dan memantau status pengiriman.

Lincah membantu seller mengelola bagian tersebut melalui satu platform.

Lincah Bukan Marketplace. Justru Itu Fungsinya.

Lincah adalah platform agregator logistik yang membantu seller memproses kebutuhan pengiriman dari berbagai channel penjualan.

Seller dapat menggunakan Lincah untuk:

  • cek ongkir online,
  • membandingkan dan memilih berbagai layanan ekspedisi,
  • mengirim COD maupun Non-COD sesuai layanan yang tersedia,
  • request pickup,
  • membuat dan mencetak resi,
  • memproses banyak pengiriman,
  • dan melakukan tracking pengiriman.

Artinya seller tidak harus membuat sistem logistik sendiri hanya karena mulai mendapatkan order dari WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, landing page, atau customer lama.

Order boleh datang dari mana saja. Operasional pengirimannya tetap perlu dibuat sederhana.

Apa yang Bisa Dilakukan Seller Mulai Minggu Ini?

Tidak perlu membuat perubahan besar.

Mulai dengan eksperimen kecil.

1. Audit Sumber Order

Cek 100 order terakhir.

Berapa persen berasal dari marketplace? Berapa dari WhatsApp? Berapa repeat customer? Berapa dari social media?

2. Pilih Satu Produk

Jangan pindahkan seluruh katalog.

Pilih satu produk yang mudah dijelaskan, mempunyai repeat potential, atau sudah mempunyai customer lama.

3. Pilih Satu Channel

Bisa mulai dari WhatsApp.

Tidak perlu langsung membuat website ecommerce lengkap.

4. Buat Satu Offer

Misalnya bundling, bonus, repeat-buyer offer, paket hemat, atau benefit yang relevan.

5. Targetkan 1–5 Order Pertama

Tujuannya bukan scale.

Tujuannya membuktikan bahwa jalur tersebut bisa menghasilkan transaksi nyata.

6. Evaluasi

Setelah ada transaksi, lihat:

  • conversion,
  • margin,
  • kemudahan checkout,
  • operasional,
  • customer response,
  • dan repeat potential.

Kalau terbukti bekerja, baru diperbesar.

Lincah Direct Seller Movement

Marketplace Tetap Jalan. Tapi Mulai Bangun Satu Jalur yang Anda Pegang Sendiri.

Mulai dari WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, checkout form, atau customer lama. Ketika order direct pertama masuk, cek ongkir, pilih ekspedisi, request pickup, kirim COD atau Non-COD, dan pantau pengirimannya melalui Lincah.

Jadi, Apakah Seller Harus Mengurangi Penjualan di Marketplace?

Tidak harus.

Marketplace tetap mempunyai peran besar dalam ecommerce Indonesia.

Marketplace mempunyai traffic, sistem pembayaran, promosi, discovery, dan ekosistem yang sulit digantikan seller secara instan.

Tetapi ada perbedaan besar antara:

menggunakan marketplace sebagai channel utama

dan

menjadikan marketplace sebagai satu-satunya channel.

Yang pertama adalah strategi.

Yang kedua menciptakan konsentrasi.

Tujuan multi-channel bukan membuat seller berada di semua tempat. Tujuannya adalah memastikan bisnis tidak hanya mempunyai satu cara untuk menghasilkan penjualan.

Mulai kecil.

Pertahankan channel yang sudah bekerja.

Bangun satu jalur alternatif.

Dapatkan beberapa order pertama.

Ukur hasilnya.

Kalau terbukti bekerja, baru scale.

Karena pada akhirnya:

Seller tidak harus punya banyak keranjang. Tapi jangan sampai seluruh bisnis cuma punya satu.

Pertanyaan Seputar Multi-Channel Selling untuk Seller

Apa itu multi-channel selling?

Multi-channel selling adalah strategi menjual produk melalui lebih dari satu channel, misalnya marketplace, WhatsApp, Instagram, TikTok, website, checkout form, reseller, atau sales channel mandiri lainnya.

Apakah seller harus meninggalkan marketplace?

Tidak. Marketplace tetap dapat menjadi channel utama. Strategi multi-channel justru bertujuan menambah jalur penjualan lain secara bertahap tanpa harus menghentikan channel yang sudah bekerja.

Kenapa seller tidak sebaiknya bergantung pada satu marketplace?

Setiap marketplace mempunyai aturan, algoritma, biaya, promosi, kompetisi, dan mekanisme sendiri. Dengan mempunyai channel tambahan, seller memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan penjualan, membangun repeat customer, dan menjalankan eksperimen.

Apa contoh sales channel mandiri untuk seller?

Contohnya adalah WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, landing page, checkout form, website sendiri, komunitas, atau direct order dari customer lama yang dikelola sesuai consent dan ketentuan yang berlaku.

Apa itu Lincah Direct Seller Movement?

Lincah Direct Seller Movement adalah pendekatan untuk membantu seller mulai membangun sales channel mandiri secara bertahap tanpa meninggalkan marketplace. Seller dapat mulai dari customer lama, WhatsApp, Instagram, TikTok Bio, atau checkout form lalu memproses pengirimannya melalui Lincah.

Apa maksud strategi 70–20–10 untuk seller?

Framework 70–20–10 dapat digunakan sebagai titik awal: sekitar 70% fokus pada marketplace yang sudah bekerja, 20% mulai membangun sales channel mandiri, dan 10% digunakan untuk eksperimen channel, campaign, atau offer baru. Angka tersebut bukan aturan wajib dan dapat disesuaikan dengan kondisi bisnis.

Bagaimana mengirim order yang berasal dari WhatsApp atau Instagram?

Setelah data order diterima, seller dapat menggunakan platform pengiriman seperti Lincah untuk cek ongkir, memilih ekspedisi, membuat pengiriman COD atau Non-COD, request pickup, mencetak resi, dan memantau status pengiriman sesuai layanan yang tersedia.

Apakah Lincah merupakan marketplace?

Tidak. Lincah adalah platform agregator logistik. Lincah membantu seller mengelola kebutuhan pengiriman dari berbagai sumber order melalui layanan seperti cek ongkir, pilihan kurir, pickup, COD, Non-COD, resi, dan tracking.

Berapa target awal yang realistis untuk direct selling?

Seller tidak perlu langsung mengejar volume besar. Target 1–5 order direct pertama dapat digunakan untuk menguji offer, proses checkout, operasional pengiriman, margin, dan respons customer sebelum melakukan scale.

Sumber & Referensi

  1. ANTARA News — “Komisi VII jadwalkan lagi pembahasan dana UMKM dibekukan TikTok Shop”, 9 September 2026.
  2. ANTARA News — “Tokopedia dan TikTok Shop jelaskan soal polemik saldo penjual ke DPR”, 8 September 2026.
  3. Lincah.id — Lincah Direct Seller Movement / Jualan Online, diakses September 2026.
  4. Lincah.id — Platform Kirim Paket Online, diakses September 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *